Pertamax

Definisi 𝘰𝘯𝘰 𝘳𝘦𝘨𝘰 𝘰𝘯𝘰 𝘳𝘢𝘱𝘰 memang lekat dan melegenda dalam hidup ya, Truk. Kemarin sepanjang perjalanan pulang, antrean pengisian bahan bakar pertalite khusus sepeda motor mengular, melingkar dan meruas sepanjang jalan tangis serta kucuran peluh masyarakat.


Aku tak tega, pada diriku juga orang-orang itu. Begitu banyak pom bensin sudah aku lewati, antrean lebih kurang sama. Akhirnya aku putuskan isi pertamax penuh. Aku minta satu nol-nol, ternyata cuma sembilan lima sudah penuh. Sisa lima. Wiih, lama sudah tidak isi pertamax. Pernah pakai, tentu tidak akan pernah lupa rasanya. Juga menjadi peribahasa yang melegenda lain dari sosial organik kemasyarakatan.


Minum pertamax menjadikan kuda besi menjadi lebih prima, gegas dan performa yang baik. Hal-hal yang membuat aku suka ketika pakai pertamax, sekaligus menyedihkan karena cepat membuat kantong kering. Rasanya masih seperti dulu, ketika kenangan-kenangan lahir dan tertulis dalam nisan-nisan. Susah - senang, duka - gembira menyatu menjadi kisah sempurna, yang belum paripurna.


Kadang Bagong 𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘭𝘦𝘬, tapi ada benarnya. Apakah mungkin perkataan I Gede Ari Astina soal perubahan kadang di mulai dari anak-anak nakal itu benar? Tetapi soal kebenaran, dengan tandas aku masih memegang teguh perkataan guruku: Bahwa kita tidak bisa mencapai kebenaran, kebenaran yang kita capai hanyalah kebenaran semu yang benar menurut diri kita, kelompok kita, kesepakatan kita, dll. Letak kebenaran sejati tetap ada di tangan Tuhan. Kita hanya bisa bersama-sama mendekati kebenaran tersebut. 


Mungkin segitu dulu, Truk, Reng, Gong, Mar. Lanjut kapan-kapan saat aku 𝘬𝘰𝘣𝘦𝘳 lagi. Salam.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa